TERONG123 dan Jejak Permainan yang Hampir Terlupakan
"Kamu masih ingat gaplek?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Rendra, sambil tangannya mengaduk kopi yang sudah setengah dingin. Sore itu kami duduk di teras belakang rumahnya di Magelang, angin meniup aroma tanah basah sehabis hujan.
"Gaplek, kartu domino itu?" jawab Yusuf sambil mengerutkan dahi. "Bapakku dulu main itu tiap malam di gardu ronda. Sekarang gardu-nya sudah jadi warung mi ayam."
Gak menutup kemungkinan ada pola taruhan tertentu yang lebihcocok dengan keadaan seberapa nyali kamu dalam bertaruh.
Rendra tertawa pelan. Ada yang sedih di balik tawanya.
Dulu, permainan semacam gaplek, ceki, atau bahkan dadu tutup bukan sekadar soal menang atau kalah. Itu adalah ritual sosial. Orang berkumpul bukan melulu karena uang taruhan yang ada di meja, tapi karena butuh tempat untuk tertawa, berdebat soal cuaca musim tanam, atau sekadar merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
"Yang bikin aku penasaran," kata Yusuf, "kenapa budaya itu bisa hilang secepat itu? Bukan karena dilarang saja. Tapi kayak... masyarakat sendiri lupa cara menikmatinya."
Bawah garis. Tantangan datang dari pilihan jatuhnya scatter,meke agnes kalian turut aktif menampil terperinci untuk melihat keadaanpemain ekuitii.
Rendra mengangguk lambat. "Mungkin karena tempatnya hilang dulu. Gardu ronda sepi. Orang-orang pindah ke layar masing-masing."
Dan di situlah percakapan kami berbelok ke arah yang tidak terduga.
Layar masing-masing itu, kata Rendra, ternyata tidak selalu membunuh warisan itu sepenuhnya. Ada platform seperti TERONG123 yang, kalau kamu mau jujur, sebenarnya sedang melanjutkan semangat yang sama dalam format berbeda. Orang-orang berkumpul, bukan di gardu, tapi di ruang digital. Masih ada rasa was-was menunggu giliran, masih ada adrenalin saat keputusan harus dibuat dalam hitungan detik.
"Bedanya," kata Yusuf, "sekarang kamu bisa main jam dua pagi dari kasur tanpa harus nyalain lampu gardu."
Tapi Rendra tidak sepenuhnya setuju. "Ada yang hilang tetap hilang. Bau asap rokok kretek, suara sandal jepit di lantai semen, obrolan ngalor-ngidul sebelum kartu dibagikan. Itu tidak bisa didigitalkan."
Keduanya terdiam sebentar.
Namun Yusuf kemudian berkata sesuatu yang menggantung lama di udara: "Mungkin bukan soal menggantikan. Mungkin TERONG123 itu semacam museum yang masih bernyawa. Kamu tidak datang untuk nostalgia saja, tapi untuk tetap merasakan sesuatu yang kamu tidak tahu namanya."
Kami tidak sempat menyimpulkan malam itu. Kopi sudah habis, langit sudah gelap sepenuhnya.
Tapi kalau kamu penasaran dengan apa yang kami bicarakan, mungkin sudah waktunya kamu sendiri yang mencoba duduk sebentar di TERONG123 dan merasakan, apakah ada sesuatu di sana yang terasa familiar tanpa kamu tahu dari mana datangnya.
Copyright 2026 TERONG123. All Rights Reserved.
DAFTAR TERONG123 SEKARANG! Dan claim promo cashbacknya.
Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru! Jangan lewatkan update berita dari Kompas.com.